Posted by: anchiella | February 19, 2008

Indonesia: Loker Tak Dikunci yang Terabaikan

Malaysia memang paling jago kalau soal ngaku-ngaku. Empat tarian tradisional Indonesia ditulis sebagai tarian tradisional Melayu di situs Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan mereka. Tarian yang mereka masukan di situs tersebut adalah Barongan (Reog Ponorogo), Kuda Kepang (Kuda Lumping), Tarian Lilin, dan Tarian Piring. Informasi di atas tentunya mengingatkan kita akan isu pengklaiman Reog Ponorogo oleh Malaysia yang sempat santer beberapa waktu lalu. Ketika itu, masyarakat Indonesia heboh karena merasa asetnya mau diambil paksa “tetangga sebelah”. Negara yang dikenal dengan sebutan Negeri Jiran itu dikecam di berbagai tempat oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Apalagi ternyata bukan hanya Reog Ponorogo yang berusaha mereka miliki, tapi juga angklung dan lagu asal Maluku “Rasa Sayange”. Bahkan batik dengan corak tertentu pun sudah (dipatenkan) menjadi milik mereka.

Berani, kalau tindak pengklaiman Malaysia itu mau diberi label. Nyeleneh pula. Namun, pasti ada landasan di balik keberanian mereka. Selain pada dasarnya yang memang nggak tahu malu, kemungkinan besar masalahnya bersumber pada kita sendiri, bangsa Indonesia.

Salah satu kekurangan tersebut bisa jadi adalah sikap abai yang dimiliki masyarakat Indonesia pada umumnya, yang ujung-ujungnya menjadi suatu kelalaian. Merasa sudah mengetahui bahwa Reog Ponorogo, batik, angklung, dan lagu “Rasa Sayange” adalah milik Indonesia, dan menganggap sudah seharusnya keempat hasil budaya tersebut memang milik kita, pada akhirnya malah lupa dijaga. Ibarat seorang anak yang memiliki sebuah loker di ruang kelas. Ia tidak pernah mengunci lokernya karena merasa warga di kelas itu sudah saling mengetahui letak loker masing-masing dan tidak akan saling mengusik. Ketika suatu saat ada barang di lokernya hilang dicuri, tentu yang salah bukan hanya si pencuri. Si anak juga salah. Dia lalai menjaga barang-barangnya sendiri.

Saat ini, masalah perebutan aset budaya antara Indonesia dan Malaysia sudah teratasi (atau sebenarnya hanya “tampak sudah teratasi?”) “Kita sepakat untuk mengedepankan penghargaan terhadap karya cipta. Jadi, kalau ada barang bernilai sejarah milik Indonesia dikembangkan di Malaysia, maka harus disebutkan sumber aslinya adalah berasal dari Indonesia. Begitupun sebaliknya,” demikian kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia Jero Wacik, seperti yang dikutip oleh Media Indonesia (www.budpar.go.id). Namun, akankah kita belajar dari pengalaman? Belajar bertanggung jawab menjaga, dan pastinya juga mencintai serta mengembangkan milik kita sendiri? Kita lihat saja.

Referensi:

www.heritage.gov.my

www.budpar.go.id

http://www.bahasa-malaysia-simple-fun.com/batik-malaysia.html

Minggu, 17 Februari 2008 dini hari

tulisan untuk Workshop Penulisan Ilmiah-Populer

dalam rangka PsyWrite Festival Fakultas Psikologi UI

Posted by: anchiella | February 18, 2008

aaaaaahhhhhhhh,,,, mengganyang mental!

Dasar, hujan! Baru muncul dan menderas sekarang! 03:55 a.m. Aku ingin menikmati hujan. Dari dalam kamar. Damai. Berharap pikiran yang belakangan ini geradakan di kepala mau tenang sebentar. Menikmati hujan bersamaku. Damai. Tapi kalau menderasnya jam 03:55 a.m., bagaimana aku mengamatinya? Menikmatinya? Dari dalam kamar. Mengusik mimpi roommate, tentu aku tak mau. Tak mungkinlah aku membuka pintu kamar lebar-lebar saat ini. Roommate-ku sudah nyenyak.

Tapi aku ingin menikmati hujan. Kawan baik kontemplasiku beberapa hari belakangan. Berpikir, berpikir, dan terus berpikir. Dan belum juga sampai pada keputusan. Aku tak mau jadi skeptis. Selalu bertanya tak pernah terjawab. Aku harus bisa menjawab semua pertanyaanku. Mendapatkan pencapaian dalam keputusan. Damn!! It’s a hardy shitty shit!!

Aku bingung. Sedang apa aku sekarang? Aku ingin belajar, belajar, dan terus belajar. Saat ini, yang aku inginkan adalah mempelajari psikologi. Baik-baik. Agar pintar. Aku suka pilihan kuliahku ini. Tapi, apa yang sudah aku pelajari? Sudah empat semester dan aku baru mengetahui satu hal. Definisi psikologi. Itu pun karena paksaan untuk mencari tau dari Mas Aten. Tanpa nongkrong-nongkrongku dengan Mas Aten dan Yogi di Excelso Citos, saat patah hati di akhir tahun pertama kuliah (thanks for your kindness), kemungkinan besar sampai tahun kedua pun aku belum tau definisi ilmu yang aku pilih untuk perdalam ini. Tolol. Apa lagi yang sudah aku pelajari? Absurd. Semuanya tak jelas, ngawang-ngawang.

Aku ingin belajar psikologi. Tapi, apa yang aku dapat? sudah semester keempat sekarang! Nonsense. Semuanya nonsense. Yang aku dapat malah kelelahan mental. Lelah berkegiatan di kampus. Lelah berada di kampus. Lelah akan sesuatu yang aku cintai. Aku cinta kampusku. Tapi aku lelah di sana. Aku butuh time-out. Bukan time-out seperti libur semesteran. Tak cukup berkualitas rupanya untukku. Aku butuh jarak dengan kehidupan yang hectic ini barang sebulan. Menghilang dari orang-orang yang selama ini berseliweran, yet nonsense. Merapikan plan dan jadwal. Baru kembali ke rutinitas.

Rutinitasku bulan-bulan belakangan ini gila. Meng-ganyang mental. Tapi, ya sudah, segitu saja. Rasanya tak sesuai effort. Memang aku yang tolol. Bilangnya ingin belajar benar-benar, biar kecerdasan si otak tidak mubazir. Tapi mana hasilnya? Malah heboh ikutan kepanitiaan, keasikan nongkrong, pacaran. Tolol. Aaaaaaaahhhhhhhhhhh,,, beeteeeeeeee!!!!!!!!

Harus gue catat baik-baik plan gue. Saat ini gue mau kuliah. Belajar menulis. Cari teman sebanyak-banyaknya. Tapi nggak lewat kepanitiaan-kepanitiaan kampus lagi. Fatigue. Enough. Kepanitiaan di kampus, buat gue, akan selesai tanggal 8 Maret 2008. Abis itu nggak akan ada lagi nggak-enakan nolak ajakan orang untuk bantu kegiatan kampus. STOP! I have to move on. Gue mau keluar. Ekstrakurikuler gue selanjutnya di luar kampus. Di luar Psiko UI. Di luar UI. Sambil gue terus kuliah. Belajar psikologi. Dan belajar menulis.

Kenapa menulis? Karena menulis merupakan cara efektif untuk melubrikasi otakku yang kegiatan kognitifnya sering ngadat, seret, kurang basa. Akh,, aku harus menata ulang semuanya. Nanti, tanggal 9 Maret 2008, akan ada reshuffle. Harus!

Posted by: anchiella | February 17, 2008

Huaaa,, menulis itu menyenangkaaaan………

 

Hahahaa,, kata siapa? Jangan langsung percaya judul tulisanku ini… Aku memilih judul tersebut supaya kalian penasaran saja untuk membaca tulisan ini, hahahaaa…….

 

Eh, tapi tulisan kali ini memang ada hubungannya dengan menulis itu menyenangkan. Cuma mungkin lebih tepat kalo aku nulisnya “Workshop Menulis Ilmiah Populer yang aku ikuti tanggal 16-17 Februari 2008 di Fakultas Psikologi UI dengan tutor Yusi Avianto Pareanom itu menyenangkan”. Naaah,, kalau judulnya aku pake kayak gitu kan kepanjangan, jadi mendingan aku singkat aja jadi “Menulis itu Menyenangkan”. Betul, nggak?

 

Menurut Mas Yusi, judul itu penting lohhh untuk menentukan apakah suatu tulisan akan dibaca atau tidak oleh banyak orang. Kalau judulnya menarik, meskipun isinya acak-kadul, setidaknya orang akan membaca 2-3 kalimat awal. Maka dari itu, 2-3 kalimat awal yang dikenal dengan istilah lead juga harus menarik. Nakal-nakal sedikit nggak masalah, kok… Asalkan sesuai konteks.

 

Kalau lead-nya menarik, maka orang akan membaca kalimat-kalimat selanjutnya. Jadi, kalimat-kalimat selanjutnya harus tetap menarik seperti lead dan judul. Kalimat-kalimat selanjutnya (badan tulisan) yang menarik tuh berarti harus memiliki alur yang runut-jelas-logis dan pilihan kata/diksi yang tepat sehingga mudah dipahami pembaca serta tetap menarik perhatian.

 

Kalau badan tulisannya menarik, … (heheee,, kalau mau tau kelanjutan hasil workshop, yuk ngobrol-ngobrol langsung sama aku)

Hal yang ingin aku ceritakan di sini adalah workshop yang merupakan bagian dari PsyWrite Festival ini menyenangkan. Buat aku yang merupakan orang awam dalam bidang jurnalistik, workshop tersebut berguna banget. Banyak yang aku dapatkan dari situ.

 

Hari pertama memang agak membosankan karena materinya lebih banyak membahas teori yang seharusnya sudah dapat kita baca di modul workshop. Penting sih, tapi mengingat kelas juga kurang aktif, jadinya membosankan. Apalagi sebetulnya materi sudah cukup jelas dipaparkan di modul. Kelas jadi lebih menarik ketika masuk ke sesi dua dan berlatih membuat lead. Wueleehhh,, baru deh terasa kalau paham teori doang mah amat sangat tidak cukup. Lebih menarik lagi karena Mas Yusi memberikan kami tugas menulis untuk dibahas di hari kedua.

 

Nahhh,, hari kedua ini yang memang menurut aku saik gila (Siapa tuh saik? Kasihan dia gila). Praktek terus,, praktek terus,, sampe mencreeet. Hehehe… Dari feedback-feedback saat latihan membuat judul dan membahas tugas, banyak sekali masukan yang harus digarisbawahi untuk diperhatikan para penulis pemula.

 

Mas Yusi-nya sendiri orangnya juga seru. Gayanya wartawan banget. Santai. Pake baju gombrong, sepatu sendal, cengengesan pula. Di kelas sih nggak terlalu cengengesan, tapi ketahuan banget dari celetukan-celetukan yang beliau lontarkan kalau beliau tuh orangnya kocak, kritis, dan agak-agak ngehe’ (apa itu ngehe’?). Jadi meskipun kelas kurang aktif, tapi tertolong lah dengan celetukan-celetukan Mas Yusi.

 

Secara keseluruhan, dengan banyaknya ilmu yang aku dapat dari workshop ini, dapat makan gratis juga dua hari, dapat sertifikat juga, gratis pula, dan tutornya saik, makaaa aku menyimpulkan workshop menulis ilmiah populer yang aku ikuti itu menyenangkaaaan……… Hahahaaaa………….

Posted by: anchiella | January 11, 2008

Bike to Work vs. Taksi

Tanggal 10 Januari 2008, aku pergi bareng Raymond si pacar, Pade Ibut, dan Anyi untuk menjenguk anak pertama Bonita&Adoy yang lahir 1 Januari kemarin, Pramusetya Kanca, di rumah mereka. Sewaktu melewati ’semanggi’-nya Depok di lajur Margonda-Pasar Minggu, aku melihat banyak orang sedang bersepeda (Sepuluh sepeda? Uhmm,, mungkin lebih. Ah, entahlah… Tak pandainya aku menaksir jumlah, he…). Kirain dari klub olahraga mana. Ternyata setelah aku amati, cermati, buntuti, kuliti *alah*, mereka adalah orang-orang “Bike to Work“. Heheee,, bukannya sok tau nih,, tapi memang aku melihat plat “Bike to Work” di bagian belakang sepeda sebagian dari mereka.

Dari situ, aku teringat akan ke-sexy-an topik mengenai pemanasan global belakangan ini, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Banyak orang dan institusi ramai-ramai membicarakannya di berbagai kesempatan. Pemanasan global menjadi topik di media massa, milis, event kampus, dan kampanye. Wuihhh,, hebat memang pemanasan global memanaskan masyarakat.

Namun seiring maraknya pembicaraan mengenai pemanasan global (dan cara menghentikannya), ternyata marak juga lowongan pekerjaan untuk menjadi sopir taksi di Pos Kota, surat kabar Ibukota yang banyak dibeli karena memang punya kuota besar untuk memuat iklan baris dan lowongan. Yahh,, memang tidak merepresentasikan keadaan yang sebenarnya secara komprehensif. Tapi, bisalah untuk dijadikan contoh ironis (beuh, berlebihan kali bahasa awak).

Tunggu dulu deh, memang apa hubungannya pemanasan global dan lowongan sopir taksi? Begini,, begini… Sekarang kan pemanasan global tuh sedang ramai dibicarakan. Orang-orang kampanye anti plastic bag, protes penggunaan styrofoam, mengusahakan program waste management di institusinya, dan usaha-usaha lain. Tapi di sisi lain, Ibukota tetap macet (as usual). Berarti penggunaan kendaraan bermotor masih sangat banyak. Lowongan untuk menjadi sopir taksi juga banyak, entah karena sopir-sopir lamanya banyak yang keluar karena nggak tahan menghadapi Si Komo lewat tiap pagi dan sore, atau memang unit taksi yang terus bertambah. Kalau kenyataannya lebih sesuai dengan alasan kedua, berarti unit taksi yang beroperasi di Jakarta terus meningkat. Kalau pengusaha-pengusaha taksi terus menambah unit operasinya, berarti karena kebutuhan masyarakat akan taksi yang terus meningkat.

So it means, di tengah ramainya pembicaraan dan kampanye stop pemanasan global di kota ini, orang-orangnya tetap saja berkontribusi banyak untuk terus mempercepat bumi memanas. Ya iyalah, karbonmonoksida (dan zat-zat lain) yang terkandung di asap kendaraan bermotor kan merupakan salah satu kontributor utama pengikisan ozon yang menyebabkan peningkatan pesat suhu bumi. Tapi saya tetap optimis, stop pemanasan global bukan hanya banyak menjadi sekedar wacana sebentar lagi. Orang-orang yang concern sama lingkungan saat ini sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengimplementasikan wacana tersebut menjadi perilaku konkret.

Sebentar laginya itu seberapa sebentar, kita lihat saja.

Posted by: anchiella | December 30, 2007

orang suka ngomong dan sombong

iya,, bener kan? orang tuh sukanya ngomong…

ngomong yang aneh-aneh, ngomong yang lucu-lucu, ngomong yang bener-bener, ngomong yang gosip-gosip, orang emang sukanya ngomong.

seru banget dengerin orang ngomong yang aneh-aneh. bisa sampai geleng-geleng aku mendengar. heran, maksudnya. seneng juga kalau denger orang ngomong yang lucu-lucu. sakiiiit perut ini terasa kalau orang nggak berhenti ngomong yang lucu-lucu. tertawa terus, gitu. pun aku suka denger orang ngomong bener-bener. jadi tambah tau, jadi tambah pintar (hei, tau dari mana kalau orang lagi ngomong bener-bener?). paling responsku cuma bisa angguk-angguk. oooh gituuu, batinku. naaah,, yang terakhir nih, paling sebel aku sama orang ngomong gosip-gosip. apalagi kalau diri sendiri yang jadi bahan gosip. aaaargh….

ada yang spesial sama orang ngomong gosip-gosip. seperti layaknya selebritas, aku pun jadi bahan gosipan, yahhh setidaknya menurut aku sendiri. bayangkan, aku dibilang sombong! geez… apa juga yang bisa aku sombongin? otak? pas-pasan… tampang? apalagi… duit? bisa selamat sampai akhir minggu aja sukur. tapi orang-orang ngomong aku sombong. apa juga yang bisa aku sombongin? heran.

kalau orang-orang bilang aku cuek, itu bukan ngomong gosip-gosip. itu ngomong benar-benar. aku,, memang cuek. kalau ada yang bilang aku sensitif, itu juga ngomong benar-benar. bagaimana kalau ada yang bilang aku suka ngomong, suka berpendapat, suka mempertahankan pendapatku? itu juga berarti orang tersebut ngomong benar-benar. aku suka belajar, karena kemampuan otakku pas-pasan. hal-hal tersebut adalah beberapa caraku untuk belajar. apa semua itu ciri-ciri orang sombong? wah, kasian benar aku. aku nggak mau jadi orang sombong. kalau semua itu ciri-ciri orang sombong, berarti aku harus mengubah beberapa caraku belajar, dong? wah,, padahal cara-cara tadi efektif sekali. nggak mau ah. aku memilih untuk jadi orang sombong saja.

Posted by: anchiella | December 29, 2007

aku!!

aku,, biasa-biasa saja.

aku,, perempuan berusia 19 tahun layaknya perempuan 19 tahun lainnya, sedang berkuliah. biasa-biasa saja. aku memiliki ketertarikan khusus pada tingkah laku manusia. maka dari itu, aku memilih berkuliah di fakultas psikologi. biasa-biasa saja. nilai-nilai kuliahku tidak brilian, tidak juga memprihatinkan. biasa-biasa saja.

seperti kebanyakan kawan seumurku, aku juga memiliki hubungan dekat dengan orang-orang tertentu. dengan raymond godwin,, kebetulan dia pacarku. dengan lia marina,, kebetulan dia roommate-ku. dengan maria noviana,, kebetulan dia mamaku. biasa-biasa saja.

ya,, aku memang biasa saja.

tidak ada yang tidak biasa.

eh, bukan…

hampir tidak ada yang tidak biasa,

selain kebiasaanku yang esa.

hei,, selain biasa, aku esa loh!

aku esa! tidak ada orang biasa yang membuatku tak esa. tidak ada orang biasa yang sama biasa denganku. jadi, selain biasa, aku esa!

kalau kalian mengharapkan ketidakbiasaan dan kebukanesaan,, jangan berharap padaku. aku hanya dapat menyuguhimu kebiasaanku yang esa. terserah kalau kalian mau memandangnya sebagai keesaanku yang biasa. bukan masalah. masihlah,, mirip-mirip.

ingat,,

aku ini biasa-biasa saja,,

dengan kebiasaanku yang esa.

-anchiella.endofthe2007-

« Newer Posts

Categories