Tanggal 10 Januari 2008, aku pergi bareng Raymond si pacar, Pade Ibut, dan Anyi untuk menjenguk anak pertama Bonita&Adoy yang lahir 1 Januari kemarin, Pramusetya Kanca, di rumah mereka. Sewaktu melewati ’semanggi’-nya Depok di lajur Margonda-Pasar Minggu, aku melihat banyak orang sedang bersepeda (Sepuluh sepeda? Uhmm,, mungkin lebih. Ah, entahlah… Tak pandainya aku menaksir jumlah, he…). Kirain dari klub olahraga mana. Ternyata setelah aku amati, cermati, buntuti, kuliti *alah*, mereka adalah orang-orang “Bike to Work“. Heheee,, bukannya sok tau nih,, tapi memang aku melihat plat “Bike to Work” di bagian belakang sepeda sebagian dari mereka.
Dari situ, aku teringat akan ke-sexy-an topik mengenai pemanasan global belakangan ini, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Banyak orang dan institusi ramai-ramai membicarakannya di berbagai kesempatan. Pemanasan global menjadi topik di media massa, milis, event kampus, dan kampanye. Wuihhh,, hebat memang pemanasan global memanaskan masyarakat.
Namun seiring maraknya pembicaraan mengenai pemanasan global (dan cara menghentikannya), ternyata marak juga lowongan pekerjaan untuk menjadi sopir taksi di Pos Kota, surat kabar Ibukota yang banyak dibeli karena memang punya kuota besar untuk memuat iklan baris dan lowongan. Yahh,, memang tidak merepresentasikan keadaan yang sebenarnya secara komprehensif. Tapi, bisalah untuk dijadikan contoh ironis (beuh, berlebihan kali bahasa awak).
Tunggu dulu deh, memang apa hubungannya pemanasan global dan lowongan sopir taksi? Begini,, begini… Sekarang kan pemanasan global tuh sedang ramai dibicarakan. Orang-orang kampanye anti plastic bag, protes penggunaan styrofoam, mengusahakan program waste management di institusinya, dan usaha-usaha lain. Tapi di sisi lain, Ibukota tetap macet (as usual). Berarti penggunaan kendaraan bermotor masih sangat banyak. Lowongan untuk menjadi sopir taksi juga banyak, entah karena sopir-sopir lamanya banyak yang keluar karena nggak tahan menghadapi Si Komo lewat tiap pagi dan sore, atau memang unit taksi yang terus bertambah. Kalau kenyataannya lebih sesuai dengan alasan kedua, berarti unit taksi yang beroperasi di Jakarta terus meningkat. Kalau pengusaha-pengusaha taksi terus menambah unit operasinya, berarti karena kebutuhan masyarakat akan taksi yang terus meningkat.
So it means, di tengah ramainya pembicaraan dan kampanye stop pemanasan global di kota ini, orang-orangnya tetap saja berkontribusi banyak untuk terus mempercepat bumi memanas. Ya iyalah, karbonmonoksida (dan zat-zat lain) yang terkandung di asap kendaraan bermotor kan merupakan salah satu kontributor utama pengikisan ozon yang menyebabkan peningkatan pesat suhu bumi. Tapi saya tetap optimis, stop pemanasan global bukan hanya banyak menjadi sekedar wacana sebentar lagi. Orang-orang yang concern sama lingkungan saat ini sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengimplementasikan wacana tersebut menjadi perilaku konkret.
Sebentar laginya itu seberapa sebentar, kita lihat saja.
Well written article.
By: Peregrine on November 11, 2008
at 3:53 am